Catatan Perjalanan #3 Masjid Sulthony Rejodani, Yogyakarta.
Masjid Sulthony Rejodani, Yogyakarta merupakan aset budaya yang harus dijaga kelestariannya
Pratama Media News, Lampung Utara – Catatan Perjalanan 3: Masjid Sulthony Rejodani, Yogyakarta, Merupakan Aset Budaya yang Harus Dijaga Kelestariannya, oleh Suprianto – Meski tidak dapat menjangkau semua tempat-tempat wisata dalam waktu satu hari. Namun, penulis sudah cukup puas dapat mengitari beberapa tempat yang memiliki nilai budaya dan sejarah di Kota Yogyakarta, termasuk singgah sejenak di Keraton Yogyakarta. Menjelang malam kemudian penulis kembali ke Home Stay di Desa Rejodani untuk beristirahat karena besok harus melanjutkan perjalanan menuju Surabaya.
Pada kamis subuh, 22 Juni 2023 penulis sempat melaksanakan shalat subuh pada sebuah masjid di desa tempat penulis menginap. Ternyata disini terdapat sebuah masjid yang bernama Masjid Sulthony, tidak hanya digunakan untuk beribadah, tetapi Masjid ini telah ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya oleh Bupati Kabupaten Sleman.

Pada masa Perang Diponegoro yang berlangsung antara 1825 hingga 1830, Kyai Kasan Besari menjadikan wilayah Rejodani sebagai wilayah basis pasukan Pangeran Diponegoro, sekaligus tempat persembunyian Kyai Kasan Besari.



“Masjid tersebut dipindah oleh Kyai Muso dan kyai Ibrahim, warga asli Rejodani yang menjadi murid Kyai Kasan Besari,” kata Mas Dar menirukan penjelasan takmir masjid.

Melansir dari sebuah laman Tribunjogja.com, setelah bangunan masjid dipindah pada 1838, selanjutnya pada 1900 dibangun serambi masjid. Pembangunan serambi masjid tersebut diprakasai oleh Kyai Haji Ahmad Darumi, Kyai Citrowihardjo, dan Kyai Ahmad Dasuki.
Baru pada 1941, pihak Keraton Yogyakarta mengangkat perabot masjid menjadi abdi dalem. Pengangkatan abdi dalem tersebut atas usulan Kyai Djohar, seorang kiai dari Kauman kepada Keraton Yogyakarta. Pada tahun itu pula masjid ini diberi nama Masjid Sulthony.
Pada 1941 tersebut Keraton Yogyakarta mengangkat tujuh orang perabot masjid. Keberadaan abdi dalem keraton Yogyakarta di masjid Sulthony berlangsung hingga 1967. Setelah itu tidak ada penerus abdi dalem yang menjadi perabot masjid Sulthony.
Bangunan masjid Sulthony layaknya bangunan Masjid Kagungan Ndalem lainnya berarsitektur Jawa dengan atap model tumpang. Di dalam masjid terdapat empat tiang penyangga bangunan utama masjid. Hingga saat ini tiang dan kayu yang menjadi struktur atap Masjid Sulthony masih asli sejak 1838. Di dalam masjid masih terdapat mimbar dan bedug yang berumur sama dengan bangunan utama masjid. Dulunya di sekeliling bangunan masjid terdapat kolam, tetapi sudah diurug.
Masjid Sulthony Rejodani pun kerap dikunjungi oleh wisatawan dan peziarah. Oleh karena itu, setiap renovasi harus mendapat izin dari pihak Keraton Yogyakarta, selaku pemilik, dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, sebagai pihak berwenang. Juga sebagai bangunan cagar budaya, renovasi masjid tidak diperkenankan mengubah bentuk aslinya yang berbentuk limasan.







Wis pancen oye pokok ne!!!
Terimakasih sudah berkunjung untuk membaca