Jogja itu, Kita dan Cerita
Di Jogja, pernah ada cinta yang datang perlahan. Diam-diam, seperti pagi yang menyusup tenang ke balik tirai. Cinta yang tak sempat diucapkan, mungkin karena takut merusak yang telah nyaman, atau karena kita terlalu piawai menyembunyikan perasaan di balik tawa.

Pratama Media News, Yogyakarta, Kolom Sastra – Kota yang katanya istimewa itu, nyatanya memang tak pernah kehabisan cara untuk meninggalkan jejak di hati siapa pun yang singgah. Jalan-jalan kecilnya yang bersahaja, senyum ramah penduduknya, aroma kopi yang menggoda dari sudut-sudut angkringan, hingga denting gamelan yang mengalun dari pendopo jauh—semuanya berpadu menjadi harmoni yang tak tergantikan.
Jogja itu, Kita dan Cerita – (Sumber vidio: Bin Elo/PMN)
Namun bagiku, Jogja bukan sekadar destinasi. Jogja adalah kisah. Jogja adalah kita, dan cerita yang tak pernah benar-benar selesai.
Pernah, di antara senja yang merona di atas Tugu, ada tawa yang kita bagi. Di bawah langit Malioboro yang hiruk pikuk, ada percakapan diam-diam yang lebih nyaring dari segala suara. Kau masih ingat? Kita duduk di alun-alun, mencoba berjalan menembus dua pohon beringin dengan mata tertutup—sambil berharap, semoga langkah ini bisa sejajar selamanya.
Tapi tidak semua yang tumbuh harus menjelma nyata.
Di Jogja, pernah ada cinta yang datang perlahan. Diam-diam, seperti pagi yang menyusup tenang ke balik tirai. Cinta yang tak sempat diucapkan, mungkin karena takut merusak yang telah nyaman, atau karena kita terlalu piawai menyembunyikan perasaan di balik tawa.
Jogja menjadi saksi, bagaimana dua hati saling memahami tanpa pernah memiliki. Bagaimana rindu bisa menetap dalam sepi, dan bagaimana pertemuan yang sederhana bisa menjelma kenangan paling luar biasa.
Di tiap sudut kota, ada sisa-sisa kisah kita yang tertinggal, di warung kopi pinggir jalan, di jalan menurun menuju pantai selatan, hingga di Stasiun Lempuyangan saat kereta akhirnya membawa kita pulang ke arah yang berbeda.
Kini, kau telah berpulang dalam hening yang tak bisa kugapai. Pergi bersama senyap, menyisakan ruang kosong di antara ingatan dan kenyataan. Tak sempat kau tahu bahwa perasaan itu sungguh pernah ada—dan masih ada. Tak ada lagi pesan di larut malam, tak ada lagi tawa ringan di bawah langit Jogja. Tapi anehnya, aku masih merasa kau begitu dekat. Seperti angin yang menyapu pelataran, seperti bayangmu yang tetap menari dalam ingatan.
Jogja itu, kita dan cerita. Cerita yang mungkin tak pernah usai, tapi akan selalu ada. (Prie/PMN).![]()
Judul: Jogja itu, Kita dan Cerita
Sumber video: Bin Elo
Editor: Suprianto




