Wisata Alam Jorong Bukit Kapur (JBK) Setigi
Tiket masuk ke Setigi terbilang murah. Untuk memanjakan mata dan melepas penat di akhir pekan, pengunjung cukup membayar Rp. 15 ribu untuk dewasa dan anak-anak hanya dipatok Rp. 10 ribu.

Pratama Media News, Gresik, Jawa Timur – Wisata Alam Jorong Bukit Kapur (JBK) Setigi – Kabupaten Gresik, Jawa Timur memiliki satu lagi tujuan berlibur atau destinasi wisata, yakni Setigi singkatan dari Selo Tirta Giri, yang resmi dibuka awal Januari 2020.
Nama destinasi wisata Setigi memiliki arti Batu, Air, dan Bukit yang menjadi elemen atau unsur pada wisata berlokasi di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah.
Setigi berada di kawasan pantai utara (pantura) Kabupaten Gresik dan berjarak kurang lebih 29 kilometer dari Wisata Bahari Lamongan (WBL) arah ke Gresik, dan 33 kilometer atau sekitar satu jam perjalanan dari Gresik kota.
Selain menyajikan wisata alam berupa perbukitan kapur, di Setigi juga terdapat wisata buatan seperti Jembatan Peradaban yang arsitekturnya bernuansa barat.

Melansir dari jatim.com konseptor dari pembangunan wisata Setigi adalah Kepala Desa Sekapuk, Abdul Halim.
“Kawasan ini merupakan bekas area tambang batu kapur. Sejak 2003 tidak lagi digunakan dan berubah fungsi sebagai tempat pembuangan sampah,” kata Halim.
Sejak 2018 tempat tersebut dibersihkan dan dibangun menjadi tempat wisata.
“Pembangunan Wisata Setigi murni swadaya masyarakat, bukan dari dana bantuan pemerintah,” tambahnya.
Halim menyebut, sebelum resmi dibuka, sudah banyak wisatawan yang berkunjung. Tidak hanya wisatawan domestik atau lokal, tapi juga wisatawan mancanegara.




Pantauan Pratama Media News, di sisi selatan area wisata terdapat sebuah gua yang di dalamnya terdapat ruang pertemuan dengan dinding, lantai, dan atap batu.


Pada sisi lainnya juga terdapat patung salah satu tokoh punakawan, Semar. Patung tersebut tampak apik dengan hiasan bunga melati di bawahnya. Patung ini merupakan karya seniman asal Yogyakarta.
Di dalam gua itu terdapat interior berupa sepuluh kalimat bijaksana atau pitutur Semar yang ditulis dalam tiga bahasa yakni Jawa, Indonesia, dan Inggris. Kemudian ada replika bangunan masjid bergaya Persia.

Menurut penjelasan salah seorang pedagang di area Setigi, mengenai pendanaan, saat itu Halim mengajak warganya untuk berswadaya dengan cara setiap Kepala Keluarga (KK) menabung Rp. 8 ribu per hari atau Rp. 200 ribu per bulan sehingga selama setahun terkumpul Rp. 2,4 juta per KK.
Jumlah diatas terhitung sebagai saham yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dengan kepemilikan sertifikat saham ini, pihaknya ingin mengajak masyarakat punya rasa memiliki wisata Setigi.

“Investornya masyarakat Sekapuk sendiri. Yang terpenting mereka bisa jadi pengusaha wisata. Pembagian keuntungan 40 persen masyarakat dan 60 persen dikelola BUMDes,” ujar seorang pedagang yang telah empat tahun berjualan di area tersebut.
Tiket masuk ke Setigi terbilang murah. Untuk memanjakan mata dan melepas penat di akhir pekan, pengunjung cukup membayar Rp. 15 ribu untuk dewasa dan anak-anak hanya dipatok Rp. 10 ribu.

Selain menampilkan konsep wisata arsitektur bernuansa Eropa dan Persia, Setigi juga menampilkan arsitektur bangunan yang terinspirasi dari sejarah lokal seperti Candi Topeng Nusantara dan Nogo Giri Pancoran.


Untuk melepas lelah setelah puas berkeliling di semua wahana, pengunjung bisa memasuki areal food court atau tempat penjualan makanan yang menyajikan aneka makanan dan minuman khas Desa Sekapuk seperti ikan asap, es legen siwalan, dan rujak manis serta bermacam hidangan lainnya.

Tempat wisata ini juga dilengkapi dengan mushalla, toilet yang bersih, juga sejenis pendopo untuk pertemuan.


Namun wisatawan juga diimbau hati-hati selama berpetualang di semua wahana yang ada di Setigi. Sebab bukit kapur memiliki karakteristik rentan retak, gerak, atau longsor terutama ketika di musim hujan atau jika terjadi gempa bumi. (Prie/PMN).
***
Judul: Wisata Alam Jorong Bukit Kapur (JBK) Setigi
Editor: Suprianto





One Comment