Budidaya Burung Puyuh Petelur
"Ternak puyuh itu tidak terlalu sulit. Ini saya ngurus sendiri. Kalau udah nggak bertelur, puyuhnya juga bisa dijual. Laku semua itu, termasuk kotorannya," ujar Makmun yang memulai usaha beternak burung puyuh petelur sejak 2009.
Pratama Media News, Lampung Utara, Selasa (11/07/2023) – Budidaya Burung Puyuh Petelur – Hampir semua orang tentu mengenal burung puyuh. Spesies yang tidak bisa terbang ini dikenal sebagai salah satu satwa penghasil telur. Meski ukurannya terbilang kecil dibandingkan unggas lain, namun siapa sangka puyuh bisa menghasilkan peluang cuan yang menjanjikan.
Burung yang mempunyai nama latin Coturnix Coturnix Japonica memiliki ukuran telur sangat kecil jika dibanding telur ayam, selain itu telurnya juga mempunyai corak hitam pada bagian cangkangnya. Meski berukuran lebih kecil, di pasaran justru harga telur puyuh lebih mahal dibanding telur ayam.


Walau berukuran kecil, telur puyuh kaya nutrisi. Dalam 100 gram telur puyuh atau kurang lebih 9–10 butir telur mengandung beberapa nutrisi; Kalori: 158 kalori, Lemak: 7 g, Protein: 13 g, Sodium: 141 mg, Kalsium: 65 mg, Kalium: 11 mg.
Selain itu, telur puyuh juga kaya akan antioksidan yang berfungsi untuk menangkal radikal bebas, memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak, dan dipercaya mampu mengatasi gejala alergi. Telur jenis ini nikmat untuk dicampurkan ke dalam sup atau jenis olahan lainnya.
Salah satu peternak burung puyuh petelur, Makmun Yusuf (61) yang berlokasi di Desa Candimas, RT. 004 RW. 001, Abung Selatan, Lampung Utara mengatakan besarnya kebutuhan pasar membuat usaha peternakan puyuh petelur potensial. Hal ini mengingat telur puyuh memiliki harga jual yang cukup tinggi. Ditambah hampir seluruh bagian puyuh bisa mendatangkan omset, mulai dari daging hingga kotorannya.
“Ternak puyuh itu tidak terlalu sulit. Ini saya ngurus sendiri. Kalau udah nggak bertelur, puyuhnya juga bisa dijual. Masa afkir puyuh berumur 1-1,5 tahun dan untuk puyuh afkir akan dijual dirumah makan atau penggepul puyuh dengan harga Rp. 5.000/ekornya. Laku semua itu, termasuk kotorannya. Kotoran kalau dikeringkan bisa laku Rp. 25 ribu per karung ukuran 50 kg untuk pupuk,” ujar Makmun yang memulai usaha beternak burung puyuh sejak 2009.

“Saya awalnya, karena keterbatan lahan dan modal cuma memelihara 700 ekor saja dalam 1 kandang berukuran 3m x 4m. Ini pun yang ngurusnya orang rumah (istri = red) karena kebetulan waktu itu saya masih ada kerjaan lain menjadi seorang sales disebuah perusahaan,” tambah Makmun menceritakan pengalamannya.
Lebih lanjut Makmun menjelaskan, untuk penangan pemberian pakan, kebersihan kandang dan imunisasi dia kerjakan sendiri serta dibantu istri. “Pakan yang saya kasih berupa Konsentrat 581 yang dioplos (campur) dengan bekatul (dedak halus), dengan perbandingan campuran 1 kg konsentrat : 2 kg bekatul (dedak halus). Terus kalo cuaca sangat dingin atau panas, diminumannya saya kasih sejenis vitamin unggas, VitaStres,” katanya.
Sedangkan untuk angka kematian burung puyuh per 1.000 ekor, Makmun menjelaskan bisa mencapai 15% – 20% dalam satu periode produksi, hal ini lebih sering terjadi karena sifat kanibalisme dari burung puyuh itu sendiri dan juga kalah bersaing dalam berebut pakan. Untuk mengatasi hal ini dirinya kemudian melakukan sortir terhadap burung puyuh yang lebih kuat (agresif) dengan burung puyuh yang agak lemah pada kandang tersendiri (terpisah).
Burung puyuh jantan dan betina mempunyai perbedaan mendasar pada ukuran tubuhnya, tubuh jantan lebih kecil dibanding betina. Selain itu bulu dada jantan berwarna cokelat polos, sedangkan pada betina terdapat corak kemerahan. Perbedaan lainnya adalah adanya tonjolan di atas kloaka jantan yang dapat mengeluarkan cairan putih mirip pasta ketika ditekan.
Makmun juga menyediakan telur bibit puyuh untuk ditetaskan dengan harga Rp. 700 per butir dengan daya tetas berkisar 75% (dari 800 butir menetas 600 ekor anakan). Dari pengalamannya telur-telur yang menetas tersebut akan menghasilkan burung puyuh jantan 50% dan burung puyuh betina 50%.
“Telur yang saya tetaskan sendiri dengan mesin penetas ini lah yang nantinya sebagai peremajaan produksi apabila indukan yang ada sudah mulai jarang bertelur. Biasanya burung puyuh apabila sudah mencapai umur 7 – 9 bulan sudah mulai berkurang telurnya,” jelas Makmun lebih lanjut.
Selain melayani konsumen rumah tangga, Makmun juga memasarkan telur-telur hasil peternakannya ke agen atau pengepul yang datang langsung ke lokasi peternakan. Produksi telur yang dihasilkan pada peternakannya mencapai 14 kg/hari dari jumlah 1.600 ekor burung puyuh produktif yang ia pelihara, atau sekitar 80% dari jumlah tersebut (rata-rata per kilogram telur puyuh konsumsi fresh berisi 90 butir), dengan membandrol harga Rp. 32 ribu per kilogramnya.

Walaupun setiap butir telur puyuh hanya memiliki keuntungan Rp. 100, tapi kini Makmun sudah menghasilkan 1.280 butir lebih telur puyuh per hari dengan keuntungan tak kurang dari Rp. 100 rupiah per butir. “Usaha ini nggak memerlukan modal besar. Saya yakin dengan nilai investasi sebanyak Rp. 20 jt sudah bisa memelihara 1.000 ekor indukan puyuh siap bertelur (umur 45 hari) termasuk pembuatan kandangnya, dan dalam waktu 18 bulan peternak sudah dapat meraup keuntungan,” ungkapnya.
Sejauh ini tidak ada kendala yang ditemui, upaya menjaga kebersihan kandang menjadi kunci utama dalam beternak burung puyuh, dan pada kesempatan berikutnya ia berjanji akan membagi kembali pengalamannya dalam kiat menjaga kebersihan kandang sebagai langkah preventif terhadap upaya pencegahan penyakit burung – burung di peternakannya.
Sayangnya, dan diakui sendiri oleh Makmun bahwa dirinya bukan tipe entrepreneur yang menganut pola manajemen rapih. Asal masih ada untungnya, usaha ternak dan jualan telur puyuh terus ia jalani. Ia mengaku tak mau repot dengan hitungan keuangan usaha. “Yang penting kalau dijual masih ada untungnya ya saya jalan terus,” ujar Ayah 2 orang anak ini mengakhiri pengalamannya dalam budidaya burung puyuh petelur, yang hingga saat ini burung puyuh peliharaannya sudah mencapai 2.000 ekor. (Prie/PMN)
***




