Kualat: Antara Mitos, Fakta, dan Fenomena Elit Politik
Kualat, entah dipahami sebagai mitos atau fakta, menyimpan pesan moral yang relevan hingga kini: berhati-hatilah dalam berkata, berbuat, dan bersikap. Apalagi bagi mereka yang diberi amanah mengemban suara rakyat.

Pratama Media News, Lampung Utara – Kualat: Antara Mitos, Fakta, dan Fenomena Elit Politik – Artikel ini ditulis oleh Sekretaris Forum Lintas Masyarakat Peduli Lampung Utara, Romli Moershaf, menyoroti tentang fenomena sejumlah anggota DPR RI yang terjerat masalah akibat ucapan dan perilakunya, dan belakangan menjadi sorotan publik.
Mulai dari kasus etika, pernyataan yang dianggap melukai hati rakyat, hingga persoalan hukum, semuanya seakan menjadi “bumerang” yang menjerat diri mereka sendiri. Dalam bahasa sehari-hari, ada yang menyebutnya dengan istilah “kualat”, sebuah istilah yang sarat makna dalam budaya kita.
Kata kualat sering digunakan dalam konteks spiritual atau kepercayaan masyarakat. Kualat biasanya dimaknai sebagai kutukan atau hukuman gaib yang menimpa seseorang akibat perilaku atau ucapan yang dianggap tidak pantas, melanggar norma, atau bahkan menyakiti orang tua dan sesepuh.
Dalam tradisi Jawa dan beberapa budaya Nusantara, kuwalat diyakini datang sebagai konsekuensi dari kesombongan, kedurhakaan, atau perilaku yang jauh dari nilai-nilai moral. Pesan para leluhur selalu mengingatkan: “Jangan sampai durhaka, apalagi kualat.”
Namun, apakah kualat benar-benar nyata atau sekadar mitos? Dari sisi kepercayaan, kualat dianggap nyata sebagai wujud keadilan semesta. Orang yang berlaku sombong, tamak, dan zalim, pada akhirnya akan menuai akibat. Ada pula yang menafsirkannya sebagai bentuk “karma sosial”: apa yang ditanam, itulah yang akan dipetik.
Sementara dari perspektif rasional, kualat bisa dipandang sebagai refleksi psikologis dan sosial. Orang yang berkata kasar, bertindak sewenang-wenang, atau menyinggung banyak pihak, cepat atau lambat akan menghadapi resistensi publik, penurunan wibawa, bahkan masalah hukum. Artinya, bukan kekuatan gaib yang bekerja, melainkan konsekuensi logis dari tindakan itu sendiri.
Dengan demikian, kualat bisa dimaknai ganda: sebagai simbol spiritual peringatan leluhur, sekaligus cerminan nyata dari hukum sebab-akibat dalam kehidupan.
Para anggota DPR RI yang menjadi sorotan publik belakangan ini seharusnya memahami hal ini. Jabatan tinggi dan limpahan harta sering kali membuat seseorang terbuai, hingga lupa menjaga ucapan dan perilaku. Padahal, setiap tindakan memiliki tanggung jawab dan konsekuensi, baik di dunia maupun di akhirat.
Ketika seorang wakil rakyat berbicara sembarangan atau bertindak semena-mena, masyarakat menilai, media mengawasi, dan sejarah mencatat. Pada akhirnya, perilaku buruk itu bisa menjatuhkan mereka sendiri.
Kualat, entah dipahami sebagai mitos atau fakta, menyimpan pesan moral yang relevan hingga kini: berhati-hatilah dalam berkata, berbuat, dan bersikap. Apalagi bagi mereka yang diberi amanah mengemban suara rakyat. Kesombongan, kerakusan, dan kelalaian hanya akan berbuah kehinaan. Sebagaimana pesan orang tua dan leluhur kita: Jangan sampai jadi anak durhaka, apalagi kualat. (Romli Moershaf/PMN).![]()
Judul: Kualat: Antara Mitos, Fakta, dan Fenomena Elit Politik
Oleh: Romli Moershaf (Sekretaris Forum Lintas Masyarakat Peduli Lampung Utara)
Editor: Suprianto




