ArtikelBeritaBudayaPariwisataPratama Media News Lampung Utara

Catatan Perjalanan #4 Mlaku Mlaku Nang Tunjungan

Jalan Tunjungan Surabaya merupakan kawasan destinasi wisata setingkat jalan Malioboro di Yogyakarta dengan nama "Tunjungan Romansa"

Pratama Media News, Lampung Utara – Catatan Perjalanan 4: Mlaku Mlaku Nang Tunjungan, oleh Suprianto – Kamis, 22 Juni 2023 pukul 08.00 pagi penulis bertolak menuju Surabaya. Akses pintu tol yang tersedia dari Jogyakarta hanya ada di Colomadu, Boyolali dan Bawen.

Setelah melewati kota Klaten, Kartasura, dan beberapa kota lainnya dengan lama perjalanan lebih kurang dua jam dari Jogyakarta, sampailah penulis di gerbang tol Colomadu Kartasura yang menghubungkan Tol Trans Jawa menuju Surabaya.

Mungkin karena disebabkan masih dalam suasana libur sekolah, ketika penulis memasuki tol trans jawa keadaan tol cukup ramai namun lancar. Beberapa kendaraan roda empat ber-plat Sumatera sempat penulis jumpai seperti BK, BM, dan BG menuju arah yang sama.

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang tiga jam, sampailah pada gerbang tol Warugunung. Kemudian penulis memilih pintu tol Karang Pilang sebagai akses keluar menuju Gunungsari, Wonokromo, Surabaya Kota ke titik tujuan Makodam V Brawijaya Surabaya Jawa Timur tempat sang buah hati tinggal dan menetap mendampingi suami bertugas.

Surabaya adalah kota yang dikenal dengan sejarah perjuangannya dalam kemerdekaan NKRI seutuhnya, yang paling terkenal adalah tragedi 10 november 1945. Peristiwa Pertempuran Surabaya kemudian menjadi momen bersejarah. Sehingga pemerintah Indonesia mengukuhkan 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Setelah beristirahat dan melepas rindu dengan sang buah hati serta ngobrol ngalor ngidul, keesokan harinya penulis dan keluarga melihat-lihat suasana malam kota Surabaya, melintasi Alun-Alun, Tugu Suroboyo, Balai Kota dan beberapa tempat lainnya sambil mengabadikan kedalam foto bila menemui spot-spot yang unik dan indah menurut penulis dan keluarga.

Semasa penulis masih kanak-kanak, kerap sekali mendengar lantunan  lagu dalam bahasa jawa yang di nyanyikan oleh Mus Mulyadi berjudul Rek Ayo Rek dengan sebagian lyriknya;

Rek ayo rek

mlaku-mlaku nang Tunjungan
Rek ayo rek
rame-rame bebarengan

Cak ayo cak
sopo gelem melu aku
Cak ayo cak
golek kenalan cah ayu

Ngalor ngidul liwat toko ngumbah moto
Masiyo mung nyenggal-nyenggol ati lego
Sopo ngerti nasib awak lagi mujur
kenal anak’e sing dodol rujak cingur

Terobsesi dengan lagu tersebut, akhirnya penulis menuju Jl. Tunjungan Surabaya. Menurut penulis lokasi ini sama seperti Jl. Malioboro Jogyakarta baik suasananya maupun aneka kuliner yang tersedia termasuk sajian musik dari para pemusik jalanan.

Jalan Tunjungan Surabaya
Penulis dan Istri mengabadikan dengan berfoto berlatar Jalan Tunjungan Surabaya pada malam hari – (Sumber: Prie/PMN)

Terletak pada Jl. Tunjungan ini berdiri sebuah bangunan tua yang masih kokoh yang kini menjadi Hotel Majapahit. Melansir dari beberapa sumber, Hotel yang terletak di Jl. Tunjungan 65 Surabaya ini dibangun 1 Juni 1910 dibeli oleh Lucas Martin Sarkies bersaudara dan dibuka secara resmi pada 1912. Peristiwa bersejarah terkait Hotel Majapahit yaitu peristiwa penyobekan bendera yang terjadi pada tanggal 19 September 1945.

Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan Surabaya
Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan Surabaya yang menjadi saksi bisu peristiwa perobekan bendera Kerajaan Belanda (Merah Putih Biru) pada 19 September 1945 – (Sumber: Prie/PMN)

Pada hari itu terjadi insiden perobekan bendera warna biru pada bendera Kerajaan Belanda (Merah Putih Biru) di tiang bendera yang terdapat pada menara di sudut barat laut Hotel Yamato. Setelah bagian biru dirobek oleh beberapa pemuda Surabaya, maka menyisakan warna merah dan putih yang merupakan bendera Republik Indonesia. Pemicu peristiwa ini yaitu pihak Belanda mengibarkan Bendera Kerajaan Belanda (merah putih biru) secara sepihak. Setelah insiden itu, nama hotel kemudian dirubah menjadi Hotel Merdeka.

Menurut sejarah, Hotel Majapahit Surabaya ini bukanlah nama pertama melainkan sudah berganti nama berkali-kali. Mulai dari Oranje Hotel, Hotel Yamato, Hotel Merdeka, Hotel LMS, hingga yang terakhir menjadi Hotel Majapahit Surabaya. Hotel Majapahit sekarang sudah menjadi hotel yang modern, megah dan berbintang lima namun penampilannya hampir sama seperti dulu, alasannya hotel ini tetap di buat klasik adalah agar tidak hilang akan kesan sejarahnya.

Pasar Tunjungan
Pasar Tunjungan, merupakan pengembangan dari usaha UMKM yang dinamai Pasar Kita Kita – (Sumber: Prie/PMN)

Melalui obrolan penulis dengan petugas parkir bernama Faisal, untuk merapikan tata letak penyimpanan kendaraan pengunjung, kini di kawasan Tunjungan sudah tersedia 8 lokasi parkir. Pengunjung dilarang memarkirkan kendaraannya di sepanjang jalan Tunjungan, khususnya pada pukul 16.00-19.00 WIB.

Selain lokasi parkir, penulis juga menyaksikan penampilan seni di Tunjungan. Seperti diketahui, Surabaya salah satu kota yang masih menjunjung tinggi karya seni, termasuk seni Mural.

Trotoar Jalan Tunjungan Surabaya
Suasana malam hari pengunjung yang sedang menikmati kuliner dan minuman segar di Trotoar Jalan Tunjungan Surabaya – (Sumber: Prie/PMN)

Ada 4 titik tampilan seni di kawasan Tunjungan. Yakni di Pertigaan Tanjung Anom, depan Optik Sels, sebelah Bank Hagakita, dan depan Toko Edision. Disini bisa menyaksikan berbagai jenis penampilan seni setiap hari mulai pukul 19.00-21.00 WIB.

Kawasan Tunjungan cocok untuk sekedar menghilangkan penat dan mencicipi kuliner dari para pelaku UMKM Surabaya. Kendati perubahan konsep kawasan wisata Tunjungan menjadi semakin Ciamik (bahasa gaul = keren), jalan tetap berfungsi normal. Setiap hari kendaraan tetap dapat melintas Jalan Tunjungan.

kuliner pada salah satu cafe di Jalan Tunjungan Surabaya
Penulis dan Keluarga sedang menikmati kuliner pada salah satu cafe di Jalan Tunjungan Surabaya – (Sumber: Prie/PMN)
Penulis dan Keluarga sedang berpose pada salah satu sudut di Jalan Tunjungan Surabaya
Penulis dan Keluarga sedang berpose pada salah satu sudut di Jalan Tunjungan Surabaya – (Sumber: Prie/PMN)

Pesan penulis, jika Anda berkunjung ke kota pahlawan ini dan melintasi Jalan Tunjungan, jangan lupa mampir menikmati spot-spot menarik di kawasan wisata Tunjungan Surabaya. Pun anda wajib mengajak orang terkasih ke kawasan ini, agar tercipta suasana yang semakin romantis. (Prie)

***

Judul: Catatan Perjalanan #4: Mlaku Mlaku Nang Tunjungan
Penulis: Suprianto (Prie)
Editor: JHK

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button