Cerbung: Rasa yang Terabaikan #1
Sebuah cerita bersambung (cerbung) karya Neneng Salbiah (N.Salbiah) seorang Pendidik Non Formal, Wirausahawati, dan Aktivis dibidang Narkotika, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.
Pratama Media News, Lampung Utara, cerita bersambung (cerbung) berjudul “Rasa yang Terabaikan #1” ini merupakan karya Neneng Salbiah (N.Salbiah) seorang Pendidik Non Formal, Wirausahawati, dan Aktivis dibidang Narkotika, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.
Selain memiliki paras cantik, Renata Aprilia pun termasuk gadis yang cerdas. Ia menikah dengan putra seorang pengusaha ternama di kotanya, Davin Anggara. Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh orang tua keduanya atas nama relasi bisnis.
Dua tahun sudah mereka menjalani hidup sebagai suami istri. Kehidupan rumah tangga mereka terlihat normal, romantis dan bahagia. Davin memenuhi tugasnya sebagai seorang suami, begitu juga dengan Renata, memposisikan layaknya seorang istri yang selalu mempersiapkan keperluan suami ketika akan berangkat ataupun pulang dari kantor tempat Davin bekerja.
Namun siapa yang menyangka dibalik kenormalan, keromantisan yang mereka jalani selama dua tahun ini tersembunyi rahasia yang mereka jaga dengan rapih, tak ada yang mengetahui termasuk keluarga besar mereka, hanya demi satu alasan untuk kebaikan bersama meski terkadang sangat menyiksa keduanya.
“Kanza akan datang ke Indonesia pekan ini Re,” kata Davin malam itu dengan sangat hati-hati saat mereka sedang berada di kamar.
“Lalu?” jawab Renata singkat.
“Aku bingung harus bagaimana,” ucap Davin lirih.
Kanza adalah kekasih Davin, seorang foto model yang tinggal di Aussie, sebuah kota di Australia. Selama ini Renata dan Davin menikah hanya sebatas sandiwara di hadapan keluarga dan orang-orang di sekitarnya, sebagai seorang CEO pewaris perusahaan “Anggara group” Davin harus menjaga image dengan baik.
“Bukan kah kamu yang menawarkan hubungan ini? Aku hanya mengikuti permaninan mu, lalu kenapa sekarang kamu yang nampak bingung?” kata Renata.

Sejak pernikahan terjadi, tidak sekalipun Davin menyentuh Renata layak nya suami istri, sandiwara yang Davin ciptakan begitu sempurna, meski sebenarnya Renata memendam rasa untuk Davin.
“Kapan Kanza tiba di Jakarta?” tanya Renata datar.
“Kanza merubah jadual, besok sore pesawatnya tiba, dan aku akan menjemputnya ke bandara.”
“Kalau gitu aku mau kerumah mamah papah aja, boleh kan?”
“Boleh, tapi jangan lama-lama,” ucap Davin seraya mencubit hidung Renata.
“Nggak lah palingan dua mingguan,” ujar Renata sambil mengunyah cemilan.
“Hah, lama banget!” seru Davin.
“Kamu juga akan melepas rindu dengan Kanza, bawa saja dia kesini, kamu bisa bebas tanpa aku,” papar Renata dengan hati yang mulai teriris.
“Tapi konsepnya tidak seperti itu Renata,”
“Lalu seperti apa?”
“Kalau kamu tidak ada dirumah terus aku bawa Kanza menginap di sini apa kata tetangga?”
“Kita lihat nanti lah,” ucap Renata menyimpulkan.
“Makasih yaa, my love Rena, teman baik ku,” kata Davin tersenyum dengan sangat manis. Teman baik. Ya, benar-benar hanya sebatas teman baik, hanya teman.
***
Menjelang malam Renata tiba dikediamannya, sebelum ia melangkah masuk, sesaat ia pandangi rumah mewah dihadapannya itu, rumah yang selama ini menjadi tempatnya bernaung menjalani hidup yang bisa dibilang tidak normal.
“Halooo… aku pulang!!” seru Renata seraya meletakkan tentengan berisi makanan di atas meja makan. Namun wajah sumringahnya tiba-tiba berubah tatkala melihat seorang wanita keluar dari kamar menyambut kedatangannya. Wanita itu berjalan dengan elok menghampiri Renata.
Baca juga:
Cerbung: Rasa yang Terabaikan #2
“Kanza. Kamu pasti Renata kan?” kata wanita itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan kepada Renata.
Renata menyambut uluran tangan itu dengan dingin, hatinya terasa semakin nyeri.
“Apa kabar Renata?” sapa Kanza mencoba untuk akrab.
“Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja,” ujar Renata sambil melangkah menuju dispenser untuk mengambil segelas air, membasahi tenggorokan yang terasa kering.
“Kamu lebih cantik dari yang aku bayangkan, aku jadi iri,” ucap Kanza.
Renata merasa sangat muak dengan sikap Kanza ini. Iri? Apa yang kamu iri kan dari pajangan rumah seperti aku? batin Renata.
“Kamu cantik loh, apa kamu tidak punya pacar?”
“Aku akan cari pacar setelah pacarmu menceraikanku,” ketus Renata.
“Kasian kamu ya Re, nanti aku coba bicara dengan Mas Davin tentang hal ini,”
Sok bijak sekali perempuan ini, padahal dialah duri dalam daging di rumah tanggaku, batin Renata lagi.
Renata pergi tanpa pamit meninggalkan Kanza yang sedang duduk di meja makan, setiba nya dikamar Davin baru saja selesai mandi dengan rambut yang masih basah, Renata membayangkan Davin dan Kanza baru saja bercinta di rumahnya, bak tertusuk ribuan belati sakit yang dirasakan Renata melihat kenyataan itu.
“Renata? Kamu sudah pulang aku kira beneran akan lama kamu disana,” sapa Davin setelah sadar akan kehadiran Renata.
“Kenapa? Terganggu?!” seru Renata setengah emosi.
“Tidak begitu juga, aku malah rindu sama kamu, biasanya kan kamu yang selalu merecoki aku makan, gangguin aku kalau lagi kerja dirumah, hal itu yang membuat aku selalu ingat sama kamu,” papar Davin sambil tertawa kecil.
“Itu biasanya, sekarang sudah ada wanita kesayangan kamu yang datang merecoki kamu, nikmatilah,”
Saat Renata melangkah ke walk in closet hendak berganti pakaian, tiba-tiba Davin mencekal lengannya.
“Re, selama Kanza ada dirumah ini gimana kalau kamu gunakan kamar tamu,” ucap Davin.
“Baik untuk malam ini dan seterusnya aku akan tidur di kamar tamu, kalian berbuat lah sesuka hati, anggap aku tidak ada,” jawab Renata seraya menghempaskan tangan Davin dengan menahan emosi yang mulai menguasai dirinya
“Kamu marah?”
“Apa ada gunanya aku marah?” ujar Renata sambil melangkahkan kaki keluar dari kamar yang selama dua tahun ini telah menjadi kamar pribadi mereka.
Davin terdiam, dia tau persis karakter istrinya, karena sejak kecil mereka berteman dan melewati hari bersama, saat ini Renata sedang menyembunyikan kemarahannya.
Renata sangat menyadari kebodohannya untuk hal ini, membiarkan wanita lain memasuki rumah tangganya, namun Renata biasa apa?
Selama ini rasa percayanya terhadap laki-laki memang telah sirna dalam kehidupan Renata, pengalaman masa lalunya yang menjadikannya seperti itu, lalu ia pun menyetujui untuk bersandiwara menikah dan hidup bersama dengan Davin.
Pintu kamar ditutup dengan bantingan yang cukup keras, Renata lantas merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan membenamkan kepala di balik bantal, ia berteriak melepas sesak, berharap Allah mencabut rasa yang ada dalam hatinya untuk Davin.
***
Malam semakin larut namun Renata tak dapat memejamkan mata, sakit dan sesak rongga dadanya membayangkan saat ini sang suami tengah berada dalam satu kamar dengan wanita lain.
Sementara didalam kamar Davin dan Kanza, dua insan berlawanan jenis itu sedang menghabiskan malam panjang dengan berbagi kehangatan. Lalu dengan nafas yang masih tersengal, Davin berbisik ditelinga Kanza, “Aku sangat mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu Mas,” balas Kanza dengan suara manja sambil mengusap peluh di dada Davin.
“Mas, kapan kamu akan menceraikan Renata,” lanjut Kanza.
“Aku tidak akan menceraikan Renata.”
“Mau sampai kapan kalian berpura-pura menjadi suami istri?”
“Aku tidak berpura-pura menjadi suami Renata, pernikahan kami sah di mata hukum negara dan agama, jadi tidak ada kepura-puraan.”
“Lagi pula keluarga ku sangat menyayangi Renata bahkan melebihi kasih sayang papah terhadapku,” sambung Davin.
“Jika begitu biarkan Renata memiliki kekasih, dengan begitu orang tua mu tidak akan menyalahkan mu, mereka akan menyalahkan Renata,” papar Kanza.
“Maksud kamu membiarkan Renata berselingkuh?” tanya Davin dan dijawab anggukan oleh Kanza.
“Hal itu tidak akan aku biarkan, sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan Renata,” ucap Davin seraya menyibakkan selimut dan bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Entah kenapa setiap kali Kanza meminta Davin menceraikan Renata ia selalu murka.
Tanpa kamu sadari kamu sudah jatuh cinta dengan Renata Mas, gumam Kanza seorang diri menahan rasa cemburu.
***
Renata baru saja selesai mandi pagi ini, ia menuju ruang makan untuk mencari makanan, perutnya terasa sangat lapar, karena sejak semalam belum terisi makanan barang sedikitpun, roti yang ia bawa saat kembali kerumah belum sempat ia makan.

Kanza dan Davin sudah berada disana dengan penampilan yang rapih.
“Sini Re, aku sudah buatkan sarapan untuk kamu,” ucap Davin seraya menyodorkan sepiring nasi goreng seafood ke hadapan Renata.
“Sorry Dav, aku mau joging dulu,” ujar Renata segera meninggalkan meja makan tanpa menoleh lagi, rasa lapar yang sejak tadi ia dirasakan hilang saat melihat kemesraan Davin dan Kanza.
Renata keluar rumah tanpa semangat, sebenarnya ia tidak ingin joging pagi ini, semua hanya alasan agar ia tidak melihat kemesraan mereka.
Baru beberapa langkah Renata keluar dari halaman, tiba-tiba seorang laki-laki muda menghamprinya.
“Hai, apakah kamu penghuni rumah sebelah?” sapa lelaki tersebut.
Renata menoleh ke arah laki-laki itu sambil menengok kebelakang, kearah rumah yang dimaksud laki-laki itu.
“Aku Reynaldi, panggil saja Rey, aku tinggal disebelah rumah mu,” sambung lelaki itu.
“Darimana kamu tau kalau saya penghuni rumah ini?” tanya Renata sedikit ketus.
“Aku lihat kamu kelur dari sana,” jawab Reynaldi datar.
“Kamu memata-mataiku?”
“Hai nona, kita baru saja kenal bahkan aku belum tau saiapa namamu, lalu bagaimana mungkin aku memata-mataimu,” jawa Reynaldi sambil mengimbangi langkah kaki Renata.
Langkah mereka terhenti seiring suara klakson mobil dari arah belakang, kaca mobil terbuka, “Renata, aku mau antar Kanza dulu ke apartemen nya, kamu jangan lupa sarapan,” ujar Davin sambil melirik sekilas kearah Reynaldi yang berdiri di samping Renata.
Renata hanya menganggukan kepala, sepintas ia melihat di dalam mobil, nampak Kanza melemparkan senyum penuh arti kearahnya.
“Siapa mereka?” tanya Rey setelah mobil yang ditumpangi Davin dan Kanza kembali melaju.
“Suamiku.”
“Oya.. lalu wanita di sebelahnya tadi?”
“Kekasihnya,” jawab Renata datar sambil melangkahkan kakinya.
Reynaldi termenung sejenak, tak habis pikir, dan tersadar setelah Renata berada beberapa langkah di depannya, sambil berlari kecil ia kembali mensejajarkan langkahnya dengan Renata.
“Renata tunggu!” seru Reynaldi dari belakang.
“Darimana kamu tau namaku?” tanya Renata tanpa menoleh.
“Tadi suamimu panggil kamu dengan nama Renata,” jawab Reynaldi yang kembali berada disampingnya
Tiba-tiba Renata berbalik arah menuju rumahnya, membuat Reynaldi semakin bingung.
“Hey… Renata! Arah tempat joging bukan kesana,” teriak Reynaldi.
“Aku mau pulang gak jadi joging!” balas Renata sedikit berteriak juga.
“Dasar cewek aneh,” umpat Reynaldi.
Reynaldi pun kembali melanjutkan joging dengan beribu tanya memenuhi benak dan kepalanya. Lelaki itu suaminya? Dan wanita di dalam mobil tadi kekasih suaminya? Lalu? Aah sudah lah! ucap Reynaldi dalam hati sambil berlari kecil. (N.Salbiah)
***
Judul cerbung: Rasa yang Terabaikan #1
Editor: Prie
Sekilas tentang penulis:

Wanita dengan nama lengkap Neneng Salbiah, kelahiran Bogor, Jawa Barat, 02 Juni 1978 adalah seorang tenaga Pendidik Non Formal, Wirausahawati di bidang kuliner, Marketer Skincare SR12, Aktivis di bidang Narkotika dan Zat Akdiktif Lainnya (Narkoba).
Ibu Rumah Tangga dari satu orang putri dan satu orang putra ini juga memiliki kegemaran menulis sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas yang merupakan kegemarannya hingga saat ini.
Sebuah pepatah Arab yang sangat disukainya karena memiliki makna begitu dalam dan dijadikan oleh nya sebagai inspirasi dalam menjalani kehidupan, yaitu Man Jadda Wa Jadda. Ungkapan tersebut memiliki arti bahwa siapa yang bersungguh maka ia akan mendapatkan.





Di tunggu cerbung nya yahh sayyy
Keren, bagus banget ceritanya. Nggak sabar nunggu lanjutannya. Update kilat dong… Semangat buat penulis.
Gasabar lanjutannya