CerbungPratama Media News Lampung Utara

Cerbung: Rasa yang Terabaikan #2

Sebuah cerita bersambung (cerbung) karya Neneng Salbiah (N.Salbiah) seorang Pendidik Non Formal, Wirausahawati, dan Aktivis dibidang Narkotika, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.

Pratama Media News, Lampung Utara, cerita bersambung (cerbung) berjudul “Rasa yang Terabaikan #2” ini merupakan karya Neneng Salbiah (N.Salbiah) seorang Pendidik Non Formal, Wirausahawati, dan Aktivis di bidang Narkotika, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.

“Halo… Renata sayang, lagi apa?” suara Davin menyapa Renata yang sedang duduk di sofa sambil memainkan handphone nya.

Tumben kamu nganter Kanza cuma sebentar?” tanya Renata merasa heran karena biasanya jika sudah bersama Kanza, Davin akan menghabiskan waktu yang lama.

“Mama dari telepon, katanya mau datang kesini sore nanti.”

“Sore ini?”

Heum,” jawab Davin sambil merebahkan kepalanya di bahu kiri Renata.

“Ya sudah kalau begitu aku mau bikin masakan buat makan nanti, mereka pasti makan malam di sini kan?” ucap Renata hendak bangkit dari duduknya.

“Tidak perlu, Mama pasti bawa masakan dari rumah,” ujar Davin menarik lengan Renata agar kembali duduk di sisinya.

Seperti yang disampaikan Davin, hampir pukul 5 sore kedua orang tua Davin tiba. “Gimana kabar kalian,” tanya Nyonya Iriana, Mamanya Davin kepada anak dan menantunya.

“Baik Ma. Oiya, Mama Papa mau minum apa, aku buatkan ya?” tanya Renata.

“Nanti aja, ini Mama bawa makanan, letakkan di meja makan,” ucap Nyonya Iriana sambil memberikan sejumlah bungkusan berisi makanan kepada Renata.

Baca juga:
Cerbung: Rasa yang Terabaikan #3

“Kalian sampai sekarang belum punya ART?” tanya Mamanya Davin saat melihat Renata membawa sendiri bungkusan itu ke meja makan.

“Belum Ma, dan Renata memang lebih suka mengerjakannya sendiri,” jawab Davin sambil menyusul Renata ke meja makan.

“Davin, kamu ngapain ikut aku ke sini?” tanya Renata setengah berbisik saat mengetahui Davin mengekor di belakangnya.

Ilustrasi foto: Rasa yang Terabaikan #2 – (Sumber: Twitter)

Gak ngapa-ngapain, cuma ikutin kamu aja.”

“Ih… gak jelas,” gumam Renata.

Tak lama berselang setelah Renata menata makanan yang dibawa oleh Mamanya Davin di meja, kemudian ia kembali ke ruang tamu untuk mempersilahkan ke dua mertuanya beristirahat.

“Mama Papa pasti lelah, silahkan istirahat dulu, kamar dan perlengkapan mandi sudah aku siapkan,” ucap Renata.

“Duduklah ada yang ingin kami bicarakan,” kata Nyonya Iriana kepada anak dan menantunya.

Mereka pun duduk berdampingan, siap mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Mama dan Papa nya Davin.

“Apa tidak sebaiknya nanti selesai makan malam saja baru kita bicarakan, sekarang kita istirahat saja dulu,” Tuan Anggara, papanya Davin menimpali.

***

Tidak ada perbincangan di atas meja makan, semua menikmati hidangan yang tersedia, hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar.

“Mama punya sesuatu untuk kalian,” kata Nyonya Iriana setelah selesai makan malam sambil duduk di ruang tengah rumah.

“Apa ini Ma?” tanya Davin.

“Itu Madu hitam, bagus untuk kalian konsumsi.”

“Untuk apa?” Davin kembali bertanya sambil memutar-mutar botol yang diberikan Mama nya.

“Agar Renata cepat hamil,” ujar Nyonya Iriana sambil melihat kearah Renata.

Davin dan Renata saling berpandangan. “Apa perlu Ma, aku rasa kita hanya belum dikasih momongan saja,” ucap Renata.

“Kalian sudah dua tahun menikah, mau menunggu berapa lama lagi?”

“Sudah lah Dav, ikuti saja saran Mama mu, tidak ada salahnya juga dicoba,” ujar sang papa menjelaskan.

“Benar Davin, papa dan mama sudah sangat kangen untuk menimang cucu,” Nyonya Iriana ikut menimpali ucapan suaminya.

Tidak ada jawaban dari Davin maupun Renata, mereka memilih diam daripada memberikan jawaban yang justru akan membuat perdebatan semakin panjang.

Banyak nasehat dan saran yang disampaikan oleh sang mertua kepada Renata, mulai dari harus rutin berkonsultasi kepada dokter sampai kepada hal agar rajin mengkonsumsi obatan-obatan herbal seperti madu hitam seperti yang mereka bawa.

Menjelang pukul 11 malam kedua orang tua Davin pamit untuk pulang. Davin dan Renata mengantar sampai di halaman rumah. Sambil mencium Renata, Nyonya Iriana kembali mengulangi pesannya untuk selalu berkonsultasi kepada dokter dan menjaga kesehatan.

Selepas kepergian kedua mertuanya, Renata memilih menyendiri di kamar tamu yang ia tempati, tiba-tiba Davin masuk tanpa mengetuk pintu kamar, sementara Renata sedang membuka baju untuk berganti pakaian.

“Davin! Kamu ngapain di sini?” tanya Renata terkejut.

“Kenapa kamu tidak ke kamar?”

“Kamar mana? Kamarku di sini dan aku akan tidur di sini,” tegas Renata.

“Kalau begitu aku juga akan tidur di sini,” ucap Davin sambil merebahkan diri di atas tempat tidur.

“Nggak Davin! Kamu jangan ngaco, cepat pindah ke kamar kamu sana!” seru Renata seraya menarik lengan Davin, namun Davin menarik lengan Renata hingga terjatuh tepat di atas dada Davin.

“Kita ini suami istri sudah selayaknya kita tidur dalam satu kamar,” ucap Davin.

“Bagaimana jika kita kabulkan permintaan Mama,” lanjut Davin.

“Maksud kamu?” tanya Renata sambil bangkit dari tempat tidur.

“Kita suami istri, tidak ada salahnya mencoba.”

“Tidak Davin kita ini sahabat, itu yang selalu kamu katakan,” kilah Renata.

Namun Davin langsung memeluk dan membungkam mulut Renata dengan ciuman, sontak Renata terkejut dan reflek mendorong Davin hingga terjerembab ke tempat tidur, tapi dengan cepat Davin bangkit dan kembali menarik tubuh Renata.

Ilustrasi foto: Rasa yang Terabaikan #2 – (Sumber: Twitter)

“Apa kamu tidak ingin memiliki anak dari aku?” tanya Davin.

“Bukan seperti itu Davin, kamu punya Kanza, apa kamu bisa bayangkan bagaimana perasaan dia jika tau kita melakukan ini,” ucap Renata.

Namun Davin tidak memperdulikan ucapan-ucapan Renata, ia terus saja memeluk dan menciumi Renata. Meski awalnya menolak, namun ciuman serta cumbuan yang Davin lakukan membuat Renata terbuai dan bahkan menikmati.

Malam pertama itupun terjadi setelah dua tahun pernikahan, Renata mencoba berdiri dan melangkah menuju kamar mandi dengan merasakan sedikit nyeri di organ intimnya, air mata Renata mengalir bersama air shower yang membasahi sekujur tubuhnya.

“Ya Tuhan, apa yang aku lakukan? Atas dasar apa Davin melakukan ini? Cinta? Atau hanya nafsu belaka?” Renata terus bertanya dalam hati.

***

Hari–hari mereka lalui seperti biasa, kejadian satu minggu yang lalu nyaris terlupakan karena setelah itu Kanza kembali hadir di dalam rumah mereka.

“Kamu kenapa Re? Sakit?” tanya Davin saat melihat Renata melintas depan kamarnya.

“Mungkin masuk angin, aku mau istirahat saja,” ucap Renata lantas membalikkan badan menuju kamar tamu.

Di dalam kamar Renata tidak dapat beristirahat seperti yang ia inginkan, rasa mual dan pusing terus mendera tubuh nya, hingga ia memutuskan untuk keluar rumah.

“Mau kemana Re?” tanya Davin melihat Renata keluar dari rumah.

“Keluar sebentar, sepertinya aku butuh udara segar,” jawab Renata tanpa mempedulikan kedua sejoli itu yang sedang asik bercengkrama di gazebo halaman rumah.

Tanpa tujuan Renata mengendarai mini coper berwarna kuning kesayangannya, hingga tiba di depan sebuah apotek ia menghentikan mini coper yang ia kendarai, “Sebaiknya aku cari obat dulu,” gumam nya.

Saat sedang berdiri menunggu pelayanan apotek, tiba-tiba kepala Renata terasa semakin pusing dan terhuyung kebelakang, dengan sigap seseorang yang berada di belakangnya menangkap tubuh Renata.

“Renata? Sedang apa disini?” tanya seseorang tersebut yang ternyata adalah Reynaldi.

“Rey?” belum sempat Renata melanjutkan kata-katanya ia langsung tak sadarkan diri.

“Renata…! Renata…!” panggil Reynaldi seraya mengguncang tubuh Renata.

“Ada apa pak?” tanya pelayan apotek yang baru saja keluar dari ruangan.

“Saya tidak tahu tiba-tiba dia tidak sadarkan diri,” jawab Reynaldi sedikit panik.

“Bawa ke klinik depan saja pak,” usul pegawai apotek tersebut.

Reynaldi pun membopong tubuh Renata masuk kedalam mobil miliknya, setiba di klinik Renata langsung mendapatkan penanganan dokter.

“Apa yang terjadi sama kamu Re?” tanya Reynaldi dengan iba menatap Renata yang terlihat lemas dan pucat.

“Selamat siang Pak,” suara suster klinik sedikit mengejutkan Reynaldi. “Bapak diminta keruangan dokter sekarang,” lanjut suster tersebut.

“Baik suster,” jawab Rey lantas mengikuti langkah suster menuju ruangan dokter.

“Sebelumnya saya ucapkan selamat pak, Istri anda sedang hamil saat ini,” ucap dokter tersebut setelah Reynaldi tiba di ruangannya.

“Istri saya? Hamil?” jawab Reynaldi terkejut.

“Iya pak, saya harap anda bisa menjaga pola makan dan kestabilan emosi istri anda, karena kehamilan di trimester pertama sangat beresiko, kondisi emosional, psikologis dan mental calon ibu akan sangat berdampak pada tumbuh kembang janin dalam rahimnya,” papar sang dokter yang tidak mempedulikan raut wajah bingung Reynaldi.

Tak lama Reynaldi pamit dari ruangan dokter, bergegas menuju ruangan di mana Renata terbaring lemah di sana.

“Hey cantik, bagaimana? Sudah merasa lebih baik?” sapa Reynaldi melihat Renata sudah duduk bersandar di tempat tidur.

“Apa kamu yang membawa ku kesini?” tanya Renata heran.

“Seperti yang kamu lihat, sekarang aku ada di sini bersama kamu.”

“Apa yang terjadi? Tadi aku akan membeli obat pusing di apotek.”

“Iya dan kamu pingsan, kebetulan aku sedang membeli vitamin disana.”

“Oh… makasih ya.”

“Di mana suami mu,” ujar Reynaldi sambil melangkah ke arah tempat tidur.

“Sudahlah, tidak ada gunanya kamu mempertanyakan keberadaan suami ku?” jawab Renata tidak suka.

“Apa sekarang suami mu sedang bersama dengan perempuan itu?” Reynaldi berusaha menerka.

“Jangan terlalu ikut campur urusanku,” ketus Renata.

“Sekarang kondisi kamu sedang hamil, sebagai suami dia harus tahu.”

Renata terkejut mendengar penuturan Reynaldi hingga tidak bisa berkata sepatah katapun, kalimat ‘hamil’ yang barusan ia dengar membuat ia berada di posisi yang benar-benar bingung, harus bahagia atau sedih dengan kondisi ini.

“Aku mau pulang,” ucap Renata tiba-tiba.

“Ok! Mobilmu masih di apotek, biar nanti akan aku suruh orang untuk mengantarkan ke rumahmu.”

Mereka kemudian meninggalkan klinik tersebut dengan menggunakan mobil milik Reynaldi. Selama perjalanan pulang keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Sesekali Reynaldi melirik ke arah Renata yang sejak tadi selalu membuang pandangannya ke luar jendela mobil.

“Re, kamu baik-baik saja kan?” tanya Reynaldi demi melihat Renata dengan lemas menyandarkan kepalanya di kaca pintu mobil.

Renata hanya mengangguk. Beribu pikiran berkecamuk di benaknya saat itu.

Tak lama berselang, mereka sampai di rumah besar milik Renata dan Davin, kemudian Reynaldi membukakan pintu untuk Renata yang masih tampak lemah.

“Bagaimana, aku bantu atau bisa sendiri?” tanya Reynaldi sambil hendak membantu memapah Renata, namun diurungkan.

“Terimakasih, aku bisa sendiri,” jawab Renata sambil melangkah perlahan ke arah pintu pagar.

Sesampai di pintu pagar rumah, Renata membalikkan badan dan berkata, “Rey terimakasih ya.”

Reynaldi mengangguk.

“Hati-hati, jaga janinmu dengan baik.”

Sementara dari balik kaca jendela lantai dua rumah, Davin memperhatikan mereka. (N.Salbiah)

***

Judul: Rasa yang Terabaikan #2
Editor: Prie

Sekilas tentang penulis:

Neneng Salbiah, Pendidik Non Formal, Wirausahawati, dan Aktivis dibidang Narkotika – (Sumber: Koleksi pribadi)

Wanita dengan nama lengkap Neneng Salbiah, kelahiran Bogor, Jawa Barat, 02 Juni 1978 adalah seorang tenaga Pendidik Non Formal, Wirausahawati di bidang kuliner, Marketer Skincare SR12, Aktivis di bidang Narkotika dan Zat Akdiktif Lainnya (Narkoba).

Ibu Rumah Tangga dari satu orang putri dan satu orang putra ini juga memiliki kegemaran menulis sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas yang merupakan kegemarannya hingga saat ini.

Sebuah pepatah Arab yang sangat disukainya karena memiliki makna begitu dalam dan dijadikan oleh nya sebagai inspirasi dalam menjalani kehidupan, yaitu Man Jadda Wa Jadda. Ungkapan tersebut memiliki arti bahwa siapa yang bersungguh maka ia akan mendapatkan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button