ArtikelBudayaOpiniPratama Media News Lampung Utara

Piil Pesenggiri: Kompas Moral dan Sosial (Perubahan Bukan Berarti Kehilangan Identitas)

Bahwa perubahan zaman tidak selalu berarti kehilangan jati diri, tetapi justru menjadi kesempatan untuk memperkuat dan memodernisasi warisan budaya.

Pratama Media News, Lampung Utara | Piil Pesenggiri: Kompas Moral dan Sosial (Perubahan Bukan Berarti Kehilangan Identitas) | Artikel pada kolom Opini yang berjudul “Piil Pesenggiri: Kompas Moral dan Sosial (Perubahan Bukan Berarti Kehilangan Identitas)” ini ditulis oleh Rafiqoh Salma HS, seorang mahasiswi  Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Lampung (Unila) Bandar Lampung. 

Nilai-nilai budaya masyarakat Lampung, seperti harga diri, kehormatan, dan sikap sosial yang baik, merupakan warisan berharga yang perlu dijaga dan dilestarikan. Namun, di era modern ini, budaya lokal menghadapi tantangan yang signifikan, termasuk berkurangnya penggunaan bahasa Lampung yang diperkirakan UNESCO berisiko punah dalam dua dekade mendatang jika tidak ada upaya pelestarian yang serius.

Falsafah Ulun Lampung, Pi’il Pasenggiri – (Sumber: ig budaya_sikam)

Saat ini, hanya sekitar 13% masyarakat Lampung yang memiliki keterikatan kuat dengan budaya aslinya. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi kita untuk menghidupkan kembali rasa bangga terhadap budaya lokal, terutama di kalangan generasi muda, agar mereka tidak hanya menjadi pengagum budaya lain tetapi juga menjadi pelopor pelestarian budaya kita sendiri.

Sementara itu, isu terkait pendidikan menjadi salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase lulusan perguruan tinggi di Lampung masih berada di angka sekitar 7,46%. Namun, angka ini seharusnya memotivasi kita untuk terus memperkuat kualitas pendidikan melalui pendekatan yang berbasis budaya lokal.

Falsafah Ulun Lampung, Nemui Nyimah – (Sumber: ig budaya_sikam)

Nilai-nilai luhur dalam Piil Pesenggiri, seperti piil (harga diri) yang mengedepankan kehormatan, dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk menjunjung tinggi pendidikan dan pengembangan diri. Dengan memadukan kearifan lokal dan semangat modernisasi, kita dapat membangun generasi muda Lampung yang berdaya saing global, tetap berakar pada identitas budaya, dan siap menghadapi masa depan yang lebih cerah.

Sebagian masyarakat sering berasumsi bahwa melestarikan budaya berarti menolak perubahan. Padahal, perubahan bukan berarti kehilangan identitas.

Sebaliknya, prinsip-prinsip tradisi seperti Piil Pesenggiri dapat dimasukkan ke dalam konteks kontemporer. Contohnya, prinsip Nemui Nyimah yang berarti ramah tamah dan suka menolong dapat diterapkan untuk membangun relasi sosial, khususnya dalam dunia pekerjaan. Piil juga dapat dijadikan pedoman motivasi di mana harga diri dan kehormatan mendorong seseorang agar berprestasi dalam pendidikan.

Banyak generasi muda Lampung lebih tertarik dengan budaya asing yang mereka anggap lebih keren dan modern. Mereka tidak menyadari bahwa adat istiadat dapat menjadi sebuah pedoman kekuatan untuk menghadapi tantangan saat ini. Padahal, jika kita dapat mengemas prinsip-prinsip budaya Lampung secara kreatif melalui media sosial, generasi muda mungkin akan lebih tertarik dan merasa terhubung dengan warisan budaya yang dimiliki. Dalam hal ini, teknologi dan kreativitas adalah kunci untuk menjembatani tradisi dengan era modern. (Irianto & Risma Margareta, 2011).

Falsafah Ulun Lampung, Sakai Sambayan – (Sumber: ig budaya_sikam)

Konsep “Piil Pesenggiri” merupakan sebuah kompas moral dan sosial yang relevan bagi masyarakat Lampung, khususnya dalam menghadapi arus perubahan yang begitu cepat. Istilah ini mengacu pada nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman hidup masyarakat Lampung, menekankan pentingnya gotong royong, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai ini dapat menjadi landasan dalam menghadapi tantangan zaman, seperti perubahan sosial dan ekonomi yang kian kompleks. (Utama, 2019).

Dalam konteks pembangunan, nilai-nilai “Piil Pesenggiri” seperti gotong royong dan keadilan universal dapat mendorong terciptanya masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Gotong royong dapat menjadi solusi atas berbagai permasalahan sosial, sementara keadilan dapat mencegah terjadinya kesenjangan sosial yang semakin lebar. Dengan menjadikan nilai-nilai ini sebagai dasar pembangunan, masyarakat Lampung dapat menghadapi tantangan modernitas tanpa kehilangan akar budaya mereka.

Falsafah Ulun Lampung, Nengah Nyappur – (Sumber: ig budaya_sikam)

Selain itu, “Piil Pesenggiri” juga mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Dalam era yang serba materialistis, nilai-nilai spiritualitas menjadi semakin penting untuk menjaga keutuhan jiwa. Dengan menghayati nilai-nilai “Piil Pesenggiri”, masyarakat Lampung dapat menemukan makna hidup yang lebih dalam dan menjalani kehidupan yang lebih seimbang. Hal ini menjadi bukti bahwa budaya lokal memiliki relevansi yang kuat di tengah arus globalisasi.

Namun, penerapan nilai-nilai “Piil Pesenggiri” dalam kehidupan nyata tidaklah mudah. Tantangan modernitas seperti individualisme, konsumerisme, dan hedonisme seringkali bertentangan dengan nilai-nilai kolektif dan spiritualitas yang terkandung dalam “Piil Pesenggiri”. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan upaya-upaya untuk terus mensosialisasikan dan mengimplementasikan nilai-nilai “Piil Pesenggiri” dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, keluarga, dan komunitas.

Falsafah Ulun Lampung, Bejuluk Buadok – (Sumber: ig budaya_sikam)

Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mempertahankan budaya lokal ini. Salah satu caranya adalah dengan memasukkan nilai-nilai “Piil Pesenggiri” ke dalam kurikulum sekolah. Tidak hanya menjadikan bahasa daerah sebagai mata pelajaran, tetapi juga mengajarkan filosofi yang mendasari bahasa tersebut. Dengan cara ini, anak-anak muda tidak hanya mengetahui nilai-nilai tersebut, tetapi juga menjadikannya pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Piil Pesenggiri adalah tentang mempertahankan sejarah dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Masyarakat Lampung dapat menggunakan nilai-nilai ini untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, termasuk pendidikan. Jika pelestarian budaya dan pendidikan tinggi dapat diintegrasikan, masyarakat Lampung akan mampu bersaing di tingkat nasional dan tetap mempertahankan identitas budayanya. Akibatnya, kita dapat membuktikan bahwa perubahan zaman tidak selalu berarti kehilangan jati diri, tetapi justru menjadi kesempatan untuk memperkuat dan memodernisasi warisan budaya kita.***

Judul: Pesenggiri: Kompas Moral dan Sosial (Perubahan Bukan Berarti Kehilangan Identitas)
Penulis: Rofiqoh Salma HS
Editor: Suprianto

Sekilas tentang penulis:

Rafiqoh Salma HS, lahir di Kotabumi Lampung Utara, 15 Mei 2003, merupakan anak kedua dari empat bersaudara.

Rofiqoh Salma HS, mahasiswi semester 5, Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Lampung (Unila) Bandar Lampung – (Sumber: Koleksi pribadi/Salma)

Mempunyai hobi menulis sejak masih menempuh pendidikan pada sekolah menengah pertama.

Latar belakang pendidikan yang pernah ditempuhnya dimulai dari SDN 2 Ketapang, Lampung Utara (2009), dilanjutkan ke SMPN 1 Sungkai Selatan, Lampung Utara (2015) dan SMAN 2 Kotabumi, Lampung Utara (2018).

Wanita yang akrab disapa Salma ini kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Strata 1 (S1) pada sebuah Universitas Negeri di Provinsi Lampung, Universitas Lampung (Unila) dengan program studi pendidikan sejarah pada tahun 2022 hingga saat ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button