CerbungLiterasiPratama Media News Lampung Utara

Cerbung: Rasa yang Terabaikan #3

Sebuah cerita bersambung (cerbung) karya Neneng Salbiah (N.Salbiah) seorang Pendidik Non Formal, Wirausahawati, dan Aktivis dibidang Narkotika, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.

Pratama Media News, Lampung Utara, cerita bersambung (cerbung) berjudul “Rasa yang Terabaikan #3” ini merupakan karya Neneng Salbiah (N.Salbiah) seorang Pendidik Non Formal, Wirausahawati, dan Aktivis di bidang Narkotika, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.

Renata memasuki rumah dengan langkah perlahan, badannya masih terasa sangat lemas, ketika melewati kamar Davin terdengar gelak tawa dan canda Kanza, Renata menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, rasa nyeri dari luka yang tak berdarah terasa sangat menyakitkan.

“Re, sudah pulang? Kebetulan, aku ingin cerita sama kamu,” sapa Davin ketika membuka pintu kamar dan mendapati Renata tengah berada di dekat kamar yang ia tempati bersama Davin.

Renata menoleh dan menatap ke arah Davin tanpa bicara sepatah katapun.

“Dari mana saja kamu?” tanya Davin.

“Sejak kapan kepergianku menjadi urusanmu?” jawab Renata.

“Kamu istriku, jadi aku harus tau kemana kamu pergi, dan siapa yang mengantarmu tadi?” ucap Davin sambil berusaha meraih tangan Renata.

“Istri yang tak dianggap, itu lebih tepatnya!” seru Renata sambil menepis tangan Davin.

Baca juga:
Cerbung: Rasa yang Terabaikan #4

Renata mengeluarkan amplop putih dari dalam tas. “Baca ini,” ucapnya, lantas meninggalkan Davin yang masih berdiri di depan pintu kamar.

Tidak lama setelah itu terdengar ketukan pintu berulang-ulang.

“Renata.. Renata.. buka pintunya sayang,” ucap Davin keras, hingga suaranya bergema ke seluruh ruangan di rumah itu.

“Ada apa Mas, kok teriak-teriak?” tanya Kanza yang datang menghampri.

“Baca ini, Renata hamil,” ujar Davin dengan bersemangat, Kanza lantas membuka amplop putih tersebut.

“Hah, iya betul Mas, Renata hamil,” ujar Kanza tak kalah bahagia.

“Sayang kalau Renata sudah hamil berarti kamu tidak perlu hamil, bentuk tubuhmu akan tetap terjaga,” papar Davin.

Sementara didalam, Renata baru saja ingin membuka pintu, tak ayal ia mendengar percakapan Davin dan Kanza.

Ilustrasi foto: Rasa yang Terabaikan – (Sumber: Twitter)

Renata mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, kakinya melangkah menuju balkon kamar, air mata tumpah tak terbendung lagi.

“Kamu benar-benar jahat Davin! Aku sudah mulai muak dengan kalian!” ujar Renata ditengah isak tangisnya, dengan tangan yang mengepal dan bibir bergetar menahan emosi.

Tiba-tiba datang pesawat mainan berukuran kecil melayang menghampiri Renata, ada secarik kertas terselip diantara kerangka dround tersebut, Renata mengambil kertas itu dan membukanya.

Don’t cry, ada aku disini,” kalimat yang Renata baca, kemudian memalingkan wajahnya ke arah Rumah Reynaldi.

Reynaldi melambaikan tangan kanannya dengan masih menggenggam remot control di tangan kirinya.

Renata hanya memandang dan bergegas beranjak dari balkon menuju kamar, kemudian menutup gordyn.

Reynaldi hanya tersenyum, “Serapat apapun kamu menutup gordyn tidak akan menghalangiku untuk tahu seperti apa kehidupanmu,” gumamnya seraya masuk kedalam rumah.

***

Semburat jingga memantulkan cahaya lewat sela gordyn kamar, Renata beranjak dari pembaringannya, sejak kepulangan dari klinik tadi siang, belum sedikitpun makanan yang masuk kedalam perutnya.

Dengan langkah lesu Renata menuruni satu demi satu anak tangga menuju lantai bawah rumah, lagi-lagi ia melihat pemandangan yang memuakkan, kemesraan dua manusia yang tidak tahu malu.

“Re, aku sama Kanza mau keluar sebentar, kamu mau titip apa?” tanya Davin setelah melihat Renata berada diruangan yang sama.

“Tidak perlu, nikmatilah hari kalian, tidak usah memikirkan aku,” ucap Renata tanpa ekspresi.

“Oiya… di belakang ada bik Imah, baru saja tiba, mama meminta bik Imah untuk tinggal bersama kita disini,” ucap Davin memberitahu.

Bik Imah adalah salah satu asisten rumah tangga di rumah orang tua Davin yang sudah terbiasa mengurus Davin dari sejak kanak-kanak.

Selepas kepergian Kanza dan Davin, Renata termenung sendiri di meja makan, perutnya sangat lapar namun tidak satupun makanan tersaji di meja makan yang membuatnya berselera, yang ada hanya rasa mual tiap kali mencium aroma makanan.

“Permisi non, mau saya buatkan minuman?” sapa bik Imah dari arah dapur.

“Eh, bik Imah, bikin kaget saja,” seru Renata dengan setengah terkejut.

“Maaf non.”

“Bik Imah duduk disini, ada yang ingin saya bicarakan,” perintah Renata seraya memberi isyarat agar bik Imah duduk di sebelahnya.

“Ada apa non?” tanya bik Imah bingung.

“Bik, disini ada wanita bernama Kanza dia adalah pacar Davin.”

“Pacar tuan muda? Maksud non?” ucap bik Imah sambil menutup mulutnya sendiri.

“Bik Imah cukup tau itu saja, pesan saya bik Imah jangan beritahukan hal ini ke mama maupun papa, cukup ini menjadi rahasia kita,” papar Renata.

“Tapi non?”

“Ssst… nanti juga bik Imah akan tahu sendiri,” Renata memberikan isyarat dengan jari telunjuk agar bik Imah tidak banyak bertanya lagi.

“Saya mau kedepan sebentar, ingat ya bik ini rahasia kita,” ulang Renata agar bik Imah lebih mengerti.

“Baik non.”

Renata keluar rumah menuju gazebo yang biasa ia gunakan untuk bersantai, sebelum ia tiba di gazebo seekor kucing mengalihkan perhatiannya.

“Hey, kamu cantik sekali, apakah kamu tersesat? Tuan mu pasti mencari,” ujar Renata kepada kucing tersebut.

Sepertinya kucing tersebut tidak ingin didekati, ia berlari keluar pagar, Renata mengejarnya, hingga tiba di depan gerbang rumah Reynaldi.

“Re..,“ Reynaldi menyapa dari dalam Rumahnya.

“Hai.. Rey,” balas Renata.

“Sedang apa?”

“Tadi ada seekor kucing sepertinya ia tersesat di rumahku,”

“Apa dia yang kamu maksud?” tanya Reynaldi seraya menunjuk seekor kucing yang sedang menikmati makanannya.

“Iya itu kucingnya, apa dia milikmu?”

“Betul, namanya Mochi, kalau sedang lapar dia memang selalu pergi kemana-mana tapi akhirnya akan kembali,” tutur Reynaldi.

Tiba-tiba terdengar suara berasal dari perut Renata, reflek Renata lantas memegang perutnya dengan rasa malu.

“Kamu laper?” tanya Reynaldi.

“Aku tidak berselera makan, semua terasa mual di perutku,” ucap Renata.

“Jika kamu mau makanlah disini, mbak Rum akan membuatkan makanan yang kamu suka, calon baby mu pasti menyukainya,” Reynaldi memberikan tawaran.

Renata nampak berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk menerima tawaran Reynaldi.

“Kamu tidak perlu takut, aku tidak sendiri di rumah, ada mbak Rum dan suami serta anaknya yang ikut tinggal di sini, mereka dari kampung asalku,” kata Reynaldi se-akan tau kekhawatiran Renata.

“Baik,” jawab Renata sambil senyum.

Renata mengikuti langkah Reynaldi kedalam, benar saja ada keluarga kecil yang juga tinggal di rumah tersebut, suasananya begitu hangat dan akrab.

“Kamu tunggu disini, aku akan minta mbak Rum untuk mereka menyiapkan makan,” sambung Reynaldi.

Renata kemudian melihat-lihat keadaan ruangan rumah Reynaldi, meski tidak dapat dikatakan mewah namun semua tertata rapih, pada dinding banyak terdapat lukisan bernuansa religi.

Tak lama berselang, “Re, makanan sudah siap,” ajak Reynaldi.

“Wah, banyak sekali makanan ini, apa kamu akan memakannya semua?” tanya Renata melihat begitu banyak makanan yang terhidang.

Reynaldi melepas tawa kecil.

“Tidak Re, sebagian dari makanan ini akan dikirim ke suatu tempat,” ujar Reynaldi.

“Ke mana?”

“Rahasia,” jawab Reynaldi sambil tersenyum.

Mendengar jawaban Reynaldi, Renata memasang mimik wajah cemberut.

Ayok ikut makan bersama kami,” ajak Reynaldi kepada mbak Rum dan mang Soleh yang sejak Reynaldi tinggal di rumah ini mereka telah ikut bersamanya serta merangkap menjadi ART.

“Tidak pak, terimakasih, kami akan melanjutkan packing makanan untuk dikirim ke yayasan yatim piatu,” jawab mbak Rum.

“Suami kamu pasti masih sibuk dengan perempuan yang suka keluar masuk di rumah kamu?” tanya Reynaldi di sela makannya

“Apa pekerjaanmu seorang paranormal?”

Pertanyaan Renata membuat Reynaldi tertawa. “Aku hanya bertanya,” kilahnya.

“Itu bukan pertanyaan, tetapi menuduh.”

“Kenyataannya memang seperti itu kan?”

“Seorang pengusaha yang sukses, memiliki istri bak bidadari tapi sayang kehidupannya tidak sesempurna yang orang lain bayangkan.”

“Rey, aku memang menerima pertemanan kita, tapi bukan berarti kamu punya hak untuk ikut campur dengan urusan rumah tanggaku.”

“Aku bukan ikut campur, siapa yang tidak kenal dengan Davin Anggara , bahkan di majalah-majalah bisnis, suami mu selalu menjadi headline teratas di setiap beritanya.”

“Seperti apapun kehidupan aku dan suamiku, aku mencintainya dan aku bahagia bersamanya,” ujar Renata, namun Reynaldi menangkap sedikit keraguan dalam ucapan Renata.

Ilustrasi foto: Rasa yang Terabaikan – (Sumber: Twitter)

“Kamu yakin ini cinta? Dan kamu bahagia?” tanya Reynaldi memastikan.

“Re, yang kamu jalani itu bukan cinta, hanya saja kalian terbiasa bersama, hal itu menjadi ketergantungan dan saling membutuhkan,” tutur Reynaldi lagi.

“Biarlah itu hanya akan menjadi urusanku dan Tuhan,” jawab Renata singkat.

“Hhmmh, aku tau, tapi maaf, kehidupan yang kamu jalani itu jauh dari kata normal,” ucap Reynaldi berempati.

“Kenapa senyum-senyum?” sambung Reynaldi karena melihat Renata sedang menompang dagu dengan kedua tangan seraya tersenyum memandang ke arahnya.

“Kamu terlalu fokus bicara sampai-sampai gak sadar kalau kita sudah kelar makan sejak tadi,” papar Renata, diiringi gelak tawa dari keduanya hingga terdengar sampai ruang belakang dan membuat mbak Rum serta suami senyum-senyum saling pandang.

Baru kali ini mereka mendengar Reynaldi yang juga menjadi majikan mereka tertawa lepas, juga baru kali ini selama mereka ikut Reynaldi menyaksikan majikannya membawa teman wanita kerumah bahkan mengajaknya makan.

Selama ini mbak Rum dan suami mengenal sosok majikannya itu sebagai seorang laki-laki yang dewasa dan mapan, namun sejauh yang mereka ketahui majikannya tidak memiliki teman dekat wanita.

“Oke Rey, terimakasih banyak akhirnya aku bisa makan malam dengan nikmat malam ini,” lanjut Renata dengan senyum.

“Sudah mau pulang?” tanya Reynaldi sambil memiringkan kepalanya dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Renata.

“Tunggu sebentar,” setelah bicara Reynaldi melangkah ke dalam dan kembali dengan sebuah tentengan di tangan.

“Apa itu Rey?”

“Untuk kamu bawa pulang isi nya sama dengan yang kamu makan tadi, ibu hamil biasanya nafsu makannya meningkat,” tutur Reynaldi.

“Sepertinya kamu tau banyak tentang ibu hamil, apakah kamu sudah beristri?” tanya Renata.

“Itu bagian dari rahasia hidupku,” ucapnya penuh rahasia, lagi-lagi Renata mencembutkan mimik wajahnya.

“Kamu semakin nampak cantik kalo cemberut begitu,” ucap Reynaldi.

“Mau ku antar?” sambungnya.

“Nggak usah, aku bisa pulang sendiri, sekali lagi terimakasih untuk semuanya,” ucap Renata sambil mengangkat paper bag pemberian Reynaldi menuju rumahnya yang hanya selisih satu blok.

Reynaldi memandangi berlalunya Renata dari arah belakang dengan senyum bahagia, wanita yang selama ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan, wanita yang selalu ia cari tahu tentang kehidupannya, hari ini bersedia untuk makan bersamanya.

“Jangan senyum-senyum sendiri mas Rey, nanti ada makhluk kasat mata yang nempel lhoo,” ucap mbak Rum menyadarkan Reynaldi yang masih saja berdiri di depan pagar halaman meski tubuh Renata sudah tidak nampak dari pandangannya. (N.Salbiah)

***

Judul: Cerbung: Rasa yang Terabaikan #3
Editor: Prie

Sekilas tentang penulis:

Neneng Salbiah, Pendidik Non Formal, Wirausahawati, dan Aktivis dibidang Narkotika – (Sumber: Koleksi pribadi)

Wanita dengan nama lengkap Neneng Salbiah, kelahiran Bogor, Jawa Barat, 02 Juni 1978 adalah seorang tenaga Pendidik Non Formal, Wirausahawati di bidang kuliner, Marketer Skincare SR12, Aktivis di bidang Narkotika dan Zat Akdiktif Lainnya (Narkoba).

Ibu Rumah Tangga dari satu orang putri dan satu orang putra ini juga memiliki kegemaran menulis sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas yang merupakan kegemarannya hingga saat ini.

Sebuah pepatah Arab yang sangat disukainya karena memiliki makna begitu dalam dan dijadikan oleh nya sebagai inspirasi dalam menjalani kehidupan, yaitu Man Jadda Wa Jadda. Ungkapan tersebut memiliki arti bahwa siapa yang bersungguh maka ia akan mendapatkan.

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button