CerbungLiterasiPratama Media News Lampung Utara

Cerbung: Rasa yang Terabaikan #4

Cerita bersambung ini merupakan karya Neneng Salbiah (N.Salbiah) seorang Pendidik Non Formal, Wirausahawati, dan Aktivis di bidang Narkotika, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.

Pratama Media News, Lampung Utara, cerita bersambung (cerbung) berjudul “Rasa yang Terabaikan #4” ini merupakan karya Neneng Salbiah (N.Salbiah) seorang Pendidik Non Formal, Wirausahawati, dan Aktivis di bidang Narkotika, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.

“Nona dari mana? Lama sekali,” Sapa bik Imah menyambut kedatangan Renata.

“Dari rumah tetangga sebelah bik, ini aku bawa oleh-oleh makanlah selagi hangat,” ucap Renata sambil memberikan paper bag ke tangan bik Imah.

“Dari mana ini Non?”

“Dari tetangga sebelah, aku sudah makan banyak disana.”

“Tetangga nya laki-laki apa perempuan Non?”

“Bik Imah, keppo yaaa,” goda Renata sambil mencondongkan kepalanya kearah bik Imah lalu tertawa dan melangkah menuju kamar.

Renata merebahkan dirinya di ranjang king size bersepraikan putih, pikirannya melayang, kembali terngiang kata-kata Reynaldi.

“Apa benar yang diucapkan Reynaldi tadi, cinta? Atau hanya karena sering bersama?” gumam Renata sambil memainkan ujung rambutnya.

Renata dan Davin sudah bersahabat sejak kecil, selalu bersama melewati hari hingga sebuah pernikahan menjebak keduanya dalam kehidupan yang sangat menyiksa untuk Renata, bertahan rasa begitu menyakitkan, pergi pun terasa sulit untuk dilakukan.

Renata berdiri di balkon kamar, menatap rumah milik Reynaldi, “Kenapa di rumah itu aku bisa makan tanpa rasa mual? Di rumah itu pula aku bisa tertawa lepas, meski terkadang aku sangat tidak suka dengan pemilik rumah, sikapnya yang seakan dia tau segalanya tentang aku, siapa dia sebenarnya?” gumam Renata lirih seakan berbicara pada dirinya sendiri.

Ketukan pintu kamar membuyarkan lamunannya, ia pun melangkah kearah pintu, “Davin? Mau apa?” tanya Renata setelah membuka pintu kamar.

Davin melangkah mendekati Renata, namun tiba-tiba Renata berlari ke kamar mandi, “Uuuwwekk!… Uuweekk!

“Re.. Renata!” seru Davin seraya mengetuk pintu kamar mandi.

Davin mendekati Renata yang baru saja keluar dari kamar mandi, tangan Davin hendak menyentuh wajah sang istri namun segera di tepis oleh Renata.

“Tolong Davin jangan mendekat, aku selalu mual jika berdekatan dengan mu,”

“Kenapa bisa seperti itu, malam ini aku akan tidur disini bersamamu.”

“Keluar dari kamar ku, aku mohon,” ucap Renata memelas agar Davin segera keluar dari kamarnya.

Renata mendorong tubuh kekar Davin, memaksa agar Davin keluar dari kamarnya.

“Renata! Apa yang kamu lakukan aku ini suamimu, sudah seharusnya aku menemanimu disini,” seru Davin ditengah dorongan kedua tangan Renata, namun sang istri seperti tidak menghiraukan kata-katanya, ia terus mendorong Davin hingga ke pintu dan menutup pintu dengan keras.

Ilustrasi foto Rasa yang Terabaikan #4 – (Sumber: Twitter)

Renata menyandarkan tubuhnya dibalik pintu, airmata mengalir deras tanpa bisa ditahan, rasa sakit, lelah dengan semua yang ia hadapi begitu mendera jiwa dan mentalnya.

Baca juga:
Rasa yang Terabaikan #1
Rasa yang Terabaikan #2
Rasa yang Terabaikan #3

“Yaa Tuhan, mengapa aku harus mencintai laki-laki menjijikan seperti Davin?” ujarnya di tengah isak tangis yang memilukan, tak dihiraukan ketukan pintu kamar dan suara Davin yang terus memanggil namanya.

Renata membaringkan tubuhnya di ranjang membungkus diri dengan selimut tebal, mencoba memejamkan mata dalam himpitan rasa sesak yang mendera, berharap mimpi indah dan menyambut esok yang lebih baik.

Sementara Davin kembali ke kamarnya setelah menerima penolakan dari Renata, ia menjatuhkan tubuhnya di sofa sudut kamar dan tak mempedulikan Kanza yang sudah menunggu sejak tadi dengan gaun malam yang seksi dan menggoda.

Ingatan Davin kembali pada Renata, istri yang sedang mengandung darah dagingnya kini sedang terbaring sendiri di kamar yang tidak seharusnya ia tempati.

“Apa yang terjadi dengan Renata, akhir-akhir ini ia seperti sedang menentangku, apa karena bawaan sedang mengandung atau ada faktor lain?” batin Davin terus mempertanyakan perubahan sikap Renata.

Davin melangkah ke arah jendela menyibak sedikit gordyn kamar dan memandang ke arah rumah Reynaldi. “Sepertinya laki-laki di rumah itu menyukai Renata, aku akan buat perhitungan jika ia berani menganggu istriku,” gumam Davin.

“Ada apa Mas. Sejak tadi melamun terus?” tanya Kanza seraya memeluk Davin dari belakang.

“Tidak apa-apa, sudahlah tidur saja sudah larut malam,” ujar Davin sambil melepas pelukan Kanza dan berjalan menuju tempat tidur.

“Mas, apa kamu sedang memikirkan Renata?” tanya Kanza setelah menyusul Davin keatas tempat tidur.

“Jangan ada perdebatan apapun, aku capek mau istirahat,” runtuk Davin sambil membalikan badan memunggungi Kanza.

Entah kenapa Kanza dirasa sudah tidak lagi menggairahkan seperti hari-hari kemarin di mata Davin. Perubahan sikap Davin yang dingin dan terlalu cepat membuat Kanza terbakar api cemburu.

Di kediaman Reynaldi.

Sosok lelaki dewasa dengan rahang yang tegas sedang duduk memainkan goresan-goresan kuas diatas kanvas. Reynaldi adalah seorang pelukis ternama berkelas internasional, namanya tidak dikenal oleh banyak orang karena satu alasan ia tidak mencantumkan nama asli dalam setiap karyanya, akan tetapi semua karyanya bernilai ratusan dolar.

Reynaldi adalah anak seorang pengusaha dari sebuah perusahaan yang bergerak di bidang elektronik terbesar di Asia tenggara. Rianti adalah wanita yang sangat ia sayangi dan ia cintai, sebagai seorang ibu sosok Rianti menjadi pelabuhan cinta dan rindu nya hingga saat ini, wanita lemah, hidup dalam siksaan batin dari sang ayah yang hanya menjadikannya sebagai mesin pencetak anak demi kerajaan bisnis.

Reynaldi remaja pun tidak tahan dengan perlakuan sang ayah terhadap ibunya karena alasan itu lah Reynaldi pergi dari rumah belasan tahun silam, mencoba hidup tanpa bayangan keluarga, meninggalkan sang ibu bersama ayah dan dua adik tirinya hasil perselingkuhan sang ayah dengan wanita lain.

Reynaldi terpaksa tidak melanjutkan kuliah, karena ia harus menjalani hidup sebagai pelukis jalanan, hingga suatu hari ia menemukan selebaran pameran lukis ibukota, ia pun memberanikan diri untuk mendaftar dengan membawa lukisan-lukisan yang ia miliki.

Pameran lukisan yang ia ikuti membawa keberuntungan, lukisan Reynaldi yang menggunakan teknik Aquarel (teknik melukis menggunakan media cat air dengan sapuan warna tipis, sehingga lukisan yang dihasilkan transparan) diminati para kolektor manca negara, masuk pasar lelang dengan harga yang sangat tinggi, ratusan dolar ia kantongi di setiap pameran, hingga saat ini.

Setelah memiliki cukup banyak uang, kemudian Reynaldi menghubungi beberapa perusahaan untuk menanamkan modal dan saham. Bakat bisnis dari sang ayah rupanya turun kepadanya.

Reynaldi menyandingkan dua lukisan wanita di hadapannya, lukisan sang ibunda Rianti dan lukisan Renata. “Aku mencintai kalian dua wanita lemah, bodoh dan naif yang hidup dalam derita cinta laki-laki tidak bermoral,” gumamnya.

Reynaldi melangkah ke sudut kamar memandang kearah rumah Renata. “Re, aku tau kamu sangat menderita atas siksaan batin yang diberikan suamimu,” ujarnya pelan.

Dikediaman Renata, sepasang kekasih masih menautkan diri di balik selimut tebal, Davin menyibakkan selimut dan berjalan menuju kamar mandi, setelah membersihkan badan, Davin pun bersiap untuk pergi ke kantor.

“Kanza, bangun lekas bersiap aku akan mengantar mu pulang hari ini,” ucap Davin membangunkan Kanza seraya beranjak keluar dari kamar.

Davin berjalan menuju kamar Renata, sejak tadi malam ia terus mengingat istrinya tersebut, “Renata apa kamu sudah bangun?” panggil Davin di balik pintu kamar Renata.

Berkali-kali Davin mengetuk dan memanggil, namun tidak ada jawaban, handle pintu ditekan dan terbuka, “Ternyata tidak dikunci” gumam Davin, namun ia tidak menemukan Renata di kamarnya, bergegas Davin mencari keberadaan Renata.

“Re, ternyata kamu disini,” ucap Davin melihat Renata sedang bersama bik Imah, belum sempat Renata menjawab, Kanza sudah berada di belakang Davin.

“Sayang, kita mau jalan jam berapa?” tanya Kanza seraya pamer kemesraan di hadapan Renata, meski kenyataan nya saat ini Kanza lah yang sedang dilanda rasa iri dan cemburu, karena sikap Davin yang dingin terhadapnya sejak kemarin.

Kanza memperhatikan tatapan Davin kepada Renata, tatapan yang tidak seperti biasanya. “Aku yakin kamu sudah mulai ada rasa sebagai seorang suami Mas” batin Kanza, ada kabut kebencian dan nyeri menyelimuti palung hatinya.

Kanza terus saja memamerkan kemesraan di hadapan Renata, namun Renata seolah sudah kebal dengan semua yang ia lihat tidak ada lagi rasa cemburu yang ada hanya rasa muak dengan semua sikap tidak tahu malu mereka.

“Re, nanti sore aku jemput, kamu bersiap kita akan makan malam keluarga untuk merayakan kehamilan kamu. Ini undangan langsung dari Papa dan Mama. Aku tadi sudah beri taukan mereka,” ucap Davin.

Renata hanya terdiam, untuk sekedar menimpali pembicaraan Davin saja rasanya enggan, ketika Davin hendak mendekatinya Renata mundur beberapa langkah.

Ilustrasi foto Rasa yang Terabaikan #4 – (Sumber: Twitter)

“Stop Davin. Uughh!” entah kenapa setiap kali mencium aroma tubuh Davin rasa mual kembali menyerang Renata. Renata pun berlari ke kamar mandi, meninggalkan Davin dengan raut wajah kesalnya.

Kehamilan Renata seakan menjadi celah untuk Reynaldi, ia tahu Renata masih belum bisa makan dengan makanan olahan di rumahnya, karena itu Reynaldi mengirimkan 1 kotak shusi dengan salmon matang untuk sarapan pagi ibu hamil.

“Non, ada titipan dari tetangga sebelah,” ujar bik Imah seraya menyodorkan kotak makanan kepada Renata.

“Apa bik?” tanya Renata sambil membuka isi kotak tersebut.

“Waaah, shusi salmon bik, aku suka banget sama ini,” sambung nya sumringah setelah mengetahui isi kotak, sambil berlari kecil ke arah pintu hendak menyongsong sang pemberi. “Orangnya sudah pergi Non,” sambung bik Imah sambil ternyum menggoda.

“Mau diambilkan piring Non?” tawar bik Imah.

“Tidak perlu, aku makan di wadahnya saja, pasti langsung habis,” ucapnya bersemangat dan langsung memakan isi kotak pemberian sang tetangga.

Tanpa Renata sadari sepertinya ia sudah mulai nyaman dengan sosok laki-laki selain suaminya, padahal saat awal bertemu ia tidak bersimpati kepada Reynaldi yang dianggap terlalu sok tau dengan kehidupannya.

Sebelum memulai makan, Renata sempatkan meraih handphone miliknya, kemudian mengirimkan sebuah pesan WhatsApp kepada Reynaldi, “Rey, terimakasih ya untuk makanan yang sudah kamu titipkan sama bik Imah untukku. Aromanya saja sudah begitu menggoda, aku suka, dan ini pasti aku habiskan.”

“Selamat menikmati, jaga kesehatanmu dan janinmu. Oya, aku lupa memberi tau bahwa untuk satu pekan depan aku berada di luar kota untuk urusan pekerjaan, nanti mbak Rum akan selalu mengirimkan makanan untuk keperluan ibu hamil sepertimu,” jawab pesan Reynaldi tak selang berapa lama.

Sambil melahap makanannya Renata membaca pesan itu. Keluar kota untuk satu pekan? gumamnya dalam hati. Kemudian ia menghentikan suapannya, memilih pola telepon, dan menghubungi Reynaldi.

Namun telepon yang dihubungi tidak tersambung, Renata mencobanya kembali, namun tetap tak tersambung.

Sambil menyuap kembali makanannya, Renata meninggalkan pesan, “Rey, hubungi aku.” (N.Salbiah)

***

Judul cerbung: Rasa yang Terabaikan #4
Pengarang: N. Salbiah
Editor: Prie

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button